PEREKONOMIAN
INDONESIA
Sagita Dwi Sugesti 26212780
1 EB 28
Bahan
Bakar Minyak
BBM
atau Bahan Bakar Minyak merupakan hal yang sudah tak bisa dijauhi lagi oleh
kalangan masyarakat Indonesia. Baik kalangan atas, menegah atau pun kalangan
bawah. Hampir seluruh aktifitas masyarakat Indonesia berhubungan dengan BBM dan
hampir semua warga Indonesia memakai BBM apalagi BBM bersubsidi yang diberikan
oleh Pemerintah yang bisa dibeli dengan harga Rp 4.500/ltr. Harga ini dua kali
lipat lebih murah dibandingkan dengan BBM non Subsidi yang seharga Rp
8.900/ltr.
Dampak
Positif Kenaikan harga BBM :
1. Menghemat
pengeluaran APBN : Jika harga BBM naik, maka APBN yang biasanya digunakan untuk
membiayai BBM bersubsidi bisa berkurang.
2. Mengurangi
kemacetan dan polusi udara: Jika harga BBM naik, maka penggunaan kendaraan
pribadi akan berkurang sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan
kecametan yang menyebabkan polusi udara.
3. Berkembangnya
Pembangunan Nasional : Jika sebelumnya, Pemerintah menggunakan APBN untuk
menyubsidi BBM, jika harga BBM sudah naik, APBN bisa digunakan untuk
pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Dampak Negatif Kenaikan harga BBM :
1. Naiknya
harga barang yang beredar di masyarakat : BBM naik, maka harga barang yang di
jual di masyarakat pun otomatis akan naik. Karena hampir seluruh sektor
perdagangan di Indonesia menggunakan bahan bakar.
2. Turunnya
daya beli masyarakat sehingga terjadi Inflasi : Harga BBM yang naik menyebabkan
turunnya daya beli masyarakat karena tingginya harga barang dan dikitnya permintaan
pada masyarakat namun dampak ini tidak akan berlangsung lama dan hanya akan
terjadi pada kenaikan BBM jangka pendek.
3. Kemiskinan
dan Pengangguran bertambah : Kenaikan harga BBM menyebabkan biaya produksi
suatu perusahaan juga meningkat, jika perusahaan tidak bisa mengurangi jumlah
barang yang di produksi, maka jalan lainnya adalah memecat karyawannya sehingga
menimbulkan kemiskinan.
4. Usaha-usaha
kecil yang gulung tikar : Dengan modal secukupnya, tentu pengusaha-pengusaha
kecil harus bekerja keras supaya usahanya tetap berjalan, apalagi usaha yang
menggunakan kendaraan seperti antar barang, jika harga BBM naik, maka mereka
harus mencari cara lain supaya tidak menaikkan biaya kirim barang, karena jika
menaikkan biaya antar, maka aka nada kemungkinan turunnya volume penjualan.
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA
NOVEMBER 2012
A. PERKEMBANGAN EKSPOR
EKSPOR NOVEMBER 2012 MENCAPAI US$16,44
MILIAR
Nilai ekspor Indonesia November 2012
mencapai US$16,44 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 7,30 persen
dibanding ekspor Oktober 2012. Sementara bila dibanding November 2011 mengalami
penurunan sebesar 4,60 persen.
Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia
Januari–November 2012 mencapai US$174,76 miliar atau turun 6,25 persen
dibanding periode yang sama tahun 2011.
1.
Ekspor Migas
Ekspor Indonesia pada November 2012 mengalami
peningkatan sebesar 7,30 persen disbanding Oktober 2012, yaitu dari US$15.324,0
juta menjadi US$16.442,1 juta. Bila dibandingkan dengan November 2011, ekspor
mengalami penurunan sebesar 4,60 persen. Peningkatan ekspor November 2012
disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 8,36 persen, yaitu dari
US$12.673,5 juta menjadi US$13.732,4 juta, demikian juga ekspor migas naik
sebesar 2,23 persen dari US$2.650,5 juta menjadi US$2.709,7 juta. Lebih lanjut
peningkatan ekspor migas disebabkan oleh meningkatnya ekspor gas sebesar 16,60
persen menjadi US$1.537,7 juta. Sebaliknya ekspor minyak mentah turun sebesar
4,50 persen menjadi US$908,0 juta dan ekspor hasil minyak turun sebesar 30,70
persen menjadi US$264,0 juta. Volume ekspor migas November 2012 terhadap
Oktober 2012 untuk minyak mentah dan hasil minyak turun masing-masing sebesar
4,48 persen dan 26,38 persen, sementara gas naik sebesar 14,48 persen.
Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia turun dari
US$109,85 per barel pada Oktober 2012 menjadi US$106,68 per barel pada November
2012.
Bila dibandingkan dengan November 2011, nilai ekspor
November 2012 mengalami penurunan4,60 persen. Penurunan ini disebabkan turunnya
ekspor migas sebesar 23,08 persen sedangkan ekspor nonmigas naik sebesar 0,14
persen. Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari–November 2012
mencapai US$174.763,1 juta atau turun 6,25 persen dibanding periode yang sama
tahun 2011, sementara ekspor nonmigas mencapai US$140.760,1 juta atau turun
5,17 persen.
B. PERKEMBANGAN IMPOR
IMPOR NOVEMBER 2012 MENCAPAI US$16,92
MILIAR
1. Impor Migas
Nilai impor Indonesia November 2012
sebesar US$16,92 miliar atau turun 1,67 persen dibanding impor Oktober 2012
yang besarnya US$17,21 miliar. Dan jika dibanding impor November 2011 (US$15,39
miliar) juga naik 9,92 persen. Sementara itu, selama Januari–November 2012 nilai
impor mencapai US$176,09 miliar atau meningkat 9,40 persen jika dibanding impor
periode yang sama tahun sebelumnya (US$160,96 miliar).
Impor migas November 2012 sebesar US$4,07
miliar atau naik US$0,24 miliar (6,27 persen) disbanding Oktober 2012 (US$3,83
miliar), sedangkan selama Januari–November 2012 mencapai US$38,85 miliar atau
naik 4,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$37,05
miliar).
1.
Impor Migas
Nilai impor Indonesia November 2012 mencapai
US$16.920,5 juta atau turun US$287,4 juta (1,67 persen) jika dibanding impor
Oktober 2012, walaupun impor migas meningkat sebesar US$240,1 juta (6,27 persen).
Lebih lanjut peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya impor hasil minyak
dan gas masing-masing sebesar US$124,9 juta (4,92 persen) dan US$165,9 juta
(73,67 persen). Sebaliknya impor migas dari golongan minyak mentah mengalami
penurunan 4,76 persen atau US$50,7 juta. Selama Januari–November 2012, nilai
impor Indonesia mencapai US$176.094,5 juta. Hal ini berarti impor Indonesia
mengalami peningkatan sebesar US$15.134,5 juta (9,40 persen) jika dibandingkan
dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan terjadi pada impor migas
sebesar US$1.793,9 juta atau 4,84 persen. Sementara itu impor nonmigas juga
meningkat sebesar US$13.340,6 juta (10,77 persen). Secara lebih rinci
peningkatan impor migas lebih disebabkan oleh peningkatan impor minyak mentah
dan hasil minyak masing-masing sebesar US$17,9 juta (0,18 persen) dan US$210,1
juta (0,81 persen). Sementara itu, impor gas juga meningkat US$1.565,9 juta
atau 123,22 persen.
Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas
tertinggi tercatat pada April 2012 dengan nilai mencapai US$4.120,4 juta dan
terendah terjadi di Juli 2012, yaitu sebesar US$2.760,0 juta. Sementara itu, nilai
impor nonmigas tertinggi tercatat di Mei 2012, yaitu sebesar US$13.594,7 juta
dan terendah di Agustus 2012 dengan nilai sebesar US$10.501,8 juta.
Jakarta - Harga BBM subsidi yang murah di Indonesia
diibaratkan pemerintah sebagai kenikmatan yang membawa sengsara. Karena
pemerintah 'tekor' membayar subsidi yang terus membengkak, akibat tingginya
konsumsi BBM subsidi.
"Harga BBM murah itu seperti kenikmatan membawa sengsara," ucap Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Dikatakan Susilo, murahnya harga BBM subsidi yang sekarang Rp 4.500/liter, memang mendorong ekonomi dan daya beli masyarakat tumbuh. Namun, dengan harga BBM subsidi yang murah, pemerintah dibuat sengsara, akibat beban subsidi yang makin besar dan membuat APBN mengarah ke defisit yang lebih besar lagi.
"Sengsaranya ya APBN kita jebol, itu lebih berbahaya, untuk menghindarkan APBN jebol maka subsidi BBM harus dikurangi, diharapkan suatu saat masyarakat bisa membeli BBM dengan harga sesuai keekonomian agar uang APBN banyak untuk hal lain," tandasnya.
Seperti diketahui, setiap liter BBM subsidi (premium dan solar) Rp 4.500 per liter mengandung subsidi Rp 5.000-Rp 5.500 per liter, pasalnya harga keekonomian premium saat ini sekitar Rp 9.500-Rp 10.000 per liter.
Pemerintah mengakui BBM subsidi yang disalurkan hampir 70%-nya tidak tepat sasaran, atau lebih dinikmati oleh orang mampu yang seharusnya tidak perlu diberi subsidi.
Di sisi lain, angka impor BBM terus meningkat seiring peningkatan kebutuhan BBM, di mana per harinya diperlukan 1,4 juta kiloliter BBM sementara produksi minyak Indonesia hanya 560.000 barel per hari sesudah dibagi dengan jatah produsen minyak. Artinya Indonesia harus impor BBM sekitar 900.000 barel per hari.
Sedangkan untuk melakukan impor BBM subsidi diperlukan dolar yang sangat banyak, sehingga tidak hanya membuat dana BBM subsidi makin besar tetapi juga menekan mata uang rupiah Indonesia terhadap dolar khususnya dolar AS yang saat ini saja sudah hampir menembus Rp 10.000 per dolar.
"Harga BBM murah itu seperti kenikmatan membawa sengsara," ucap Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Dikatakan Susilo, murahnya harga BBM subsidi yang sekarang Rp 4.500/liter, memang mendorong ekonomi dan daya beli masyarakat tumbuh. Namun, dengan harga BBM subsidi yang murah, pemerintah dibuat sengsara, akibat beban subsidi yang makin besar dan membuat APBN mengarah ke defisit yang lebih besar lagi.
"Sengsaranya ya APBN kita jebol, itu lebih berbahaya, untuk menghindarkan APBN jebol maka subsidi BBM harus dikurangi, diharapkan suatu saat masyarakat bisa membeli BBM dengan harga sesuai keekonomian agar uang APBN banyak untuk hal lain," tandasnya.
Seperti diketahui, setiap liter BBM subsidi (premium dan solar) Rp 4.500 per liter mengandung subsidi Rp 5.000-Rp 5.500 per liter, pasalnya harga keekonomian premium saat ini sekitar Rp 9.500-Rp 10.000 per liter.
Pemerintah mengakui BBM subsidi yang disalurkan hampir 70%-nya tidak tepat sasaran, atau lebih dinikmati oleh orang mampu yang seharusnya tidak perlu diberi subsidi.
Di sisi lain, angka impor BBM terus meningkat seiring peningkatan kebutuhan BBM, di mana per harinya diperlukan 1,4 juta kiloliter BBM sementara produksi minyak Indonesia hanya 560.000 barel per hari sesudah dibagi dengan jatah produsen minyak. Artinya Indonesia harus impor BBM sekitar 900.000 barel per hari.
Sedangkan untuk melakukan impor BBM subsidi diperlukan dolar yang sangat banyak, sehingga tidak hanya membuat dana BBM subsidi makin besar tetapi juga menekan mata uang rupiah Indonesia terhadap dolar khususnya dolar AS yang saat ini saja sudah hampir menembus Rp 10.000 per dolar.
Seperti
yang dikatakan oleh Wakil Menteri ESDM di atas, tujuan diberikan Subsidi adalah
untuk membantu warga kalangan bawah, tetapi fakta yang terjadi sebenarnya,
pengguna BBM bersubsidi adalah masyarakat menengah ke atas bahkan mencapai
angka 70%. Pertanyaannya, kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Mungkin salah
satunya karena kurangnya pengawasan dari Pemerintahan sendiri. Jika saja
diberikan sanksi yang tegas, mungkin kebijakan ini akan berjalan dengan
semestinya dan tepat sasaran.
Lalu
di atas di katakan, bahwa angka konsumsi BBM di Indonesia per harinya mencapai
1.4 juta kiloliter sementara produksi di Indonesia sendiri hanya 560.000 barel
per hari. Menurut saya, kita tidak perlu mengimpor BBM untuk melengkapi
kebutuhan masyarakat. Bukan maksud ingin merugikan masyarakat, tapi,
masayarakat Indonesia sudah terlalu sering diberi kemudahan, jadi menurut saya,
BBM Subsidi seharusnya dikurangi atau kalau perlu dihilangkan. Memang ini akan
merugikan banyak pihak terutama pihak yang kurang mampu karena jika BBM Subsidi
tidak ada atau berkurang, maka kemungkinan harga seluruh barang yang dijual di
masyarakat akan meningkat sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Atau jika
memang BBM Subsidi tidak bisa dihilangkan, setidaknya kurangi penjualan
kendaraan pribadi di Indonesia.
Karena
menurut saya, pembelian kendaraan pribadi cenderung sangat mudah sehingga jika
banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi otomatis penggunaan BBM
akan semakin banyak juga, mengingat produksi BBM di Indonesia tidak banyak dan
terlebih lagi, kalangan-kalangan atas yang masih banyak menggunakan BBM
bersubsidi sehingga menyebabkan APBN membengkak untuk menyubsidi sesuatu yang
sebenarnya tidak perlu disubsidi, menyebabkan pengeluaran terbuang percuma.
Atau bedakan pajak kendaraan antara kendaraan yang pertama kali dibeli dengan
kendaraan yang akan dibeli setelahnya, saya rasa, hal ini bisa mencegah warga
Indonesia untuk memiliki kendaraan pribadi lebih dari dua.
Lebih
baik, Pemerintah harus memperbaiki transportasi umum, karena jika tranportasi
nyaman, aman serta murah, pasti orang akan beralih sehingga bisa mengurangi
kemacetan yang terjadi di Indonesia terutama di Ibu Kota saat ini. Namun, semua
ini juga tidak akan berhasil jika hanya dijalankan oleh satu pihak saja.
Masyarakat juga harus menaati peraturan yang dibuat oleh pemerintah, sementara
pemerintah juga harus tegas dalam mengambil tindakan yang bertanggung jawab.
JAKARTA,
KOMPAS.com - Awal tahun depan,
mobil pribadi tetap boleh membeli bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Tapi, Badan
Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan merilis aturan yang
membatasi pembelian BBM bersubsidi maksimal Rp 100.000 per hari per mobil.
Andy Noorsaman
Sommeng, Kepala BPH Migas mengatakan, pembatasan penggunaan BBM
bersubsidi bagi pemilik mobil pribadi ini bertujuan menekan kuota BBM
bersubsidi supaya tetap di angka 46,1 juta kiloliter (kl) di tahun depan.
"Tugas kami mengawasi konsumsi BBM dengan mengatur di sektor penjualannya,"
kata Andy beberapa hari lalu.
Andy menjelaskan
bahwa model pembatasan BBM bersubsidi seperti itu telah
diujicobakan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di
Kalimantan Selatan. "Di Kalimantan, pembelian maksimal Rp 100.000 per
mobil per hari," imbuh Andy.
Agar sistem ini
bisa berjalan, BPH Migas akan membentuk satuan tugas (satgas) yang mengawasi
pelaksanaan rencana itu, serta memasang teknologi di setiap pompa bensin.
Alat tersebut akan berfungsi mendeteksi dan bisa mengenali setiap mobil
yang telah mengisi BBM bersubsidi.
Alat pendeteksi
ini terkoneksi dengan data base di pusat sehingga mobil yang telah mengisi BBM
bersubsidi di sebuah SPBU tidak bisa lagi mengisi BBM subsidi di SPBU lain di
hari yang sama.
Andy menjelaskan,
supaya tidak membebani pengusaha SPBU, anggaran pengadaan teknologi pembatasan
BBM subsidi ini akan ditanggung pemerintah. "Diambil dari keuntungan
penjualan BBM bersubsidi, yakni Rp 18 per liter," katanya. Sebagai
catatan, tahun depan keuntungan penjualan BBM bersubsidi ditetapkan Rp 642,64
per liter.
Tidak akan efektif
Ali Mundakir Vice
President Communication PT Pertamina, mengatakan, pihaknya siap membantu BPH
Migas dan akan memerintahkan 5.018 unit SPBU Pertamina di Tanah Air untuk
mendukung rencana pemerintah tersebut. Hanya, ia mengharapkan aturan
pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi ini jelas dan tegas sehingga tidak memicu
protes dan polemik di masyarakat.
Pengamat industri
migas, Kurtubi meragukan efektivitas penerapan model pembatasan pembelian BBM
bersubsidi maksimal Rp 100.000 per mobil per hari. Cara ini tidak akan efektif
menekan kuota volume BBM bersubsidi di tahun 2013.
Sudah begitu,
menurut Kurtubi, langkah tersebut juga membutuhkan biaya sangat
mahal, yaitu untuk pengadaan teknologi maupun pengawasannya. Dia lebih
setuju pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Cara ini lebih efektif
meredam pemakaian BBM bersubsidi dan menjaga subsidi BBM tak membengkak.
Lagi pula, kalau
dihitung-hitung, saat ini rata-rata pemilik mobil juga membeli bensin bersubsidi
tak lebih dari Rp 100.000 per hari. Alhasil, apa manfaat dari program
pembatasan pembelian BBM bersubsidi ini, ya? (Muhammad
Yazid, Herlina KD/Kontan)
Pada
artikel ini, saya sependapat dengan Bapak Kurtubi, walaupun nantinya akan
berhasil menekan harga BBM Subsidi, tapi pemerintah tetap akan memakan biaya
yang banyak untuk teknologi yang akan digunakan. Hal ini sama saja bohong atau
istilah lainnya adalah tutup lubang gali lubang. Bagaimana bisa Pemerintah
melakukan pengawasan yang ketat terhadap jumlah pengguna BBM yang tidak
terhitung lagi? Terlebih lagi, SPBU Pertamina milik Negara hanya terdapat 80 di
seluruh Indonesia, sementara sisanya dikelola oleh perusahaan swasta. Apakah
pemerintah bisa menjamin hal tersebut akan efektif dan apakah Pemerintah bisa
menjamin tidak adanya kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan swasta
tersebut? Dan jika ada yang melanggar apakah Pemerintah benar-benar akan memberikan
sanksi yang tegas?
Daftar
Pustaka
